Prahara KPK-Polri dan Dampaknya terhadap Perekonomian
A TONY PRASETIANTONO Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik, Universitas Gadjah Mada
|
|
Jika
permasalahan KPK-Polri terus berlarut-larut dan mulai
menunjukkan Presiden Jokowi ternyata tidak sepenuhnya
memegang kemudi kekuasaan sehingga tidak bisa mengambil keputusan
secara independen, serta tidak bisa lagi mendengarkan `suara rakyat',
pasar pun bisa berbalik terpengaruh.
HIRUK
pikuk pemi lihan Kapolri persis terjadi pada saat
pe merintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjelang
berumur 100 hari. Karena itu, suka atau tidak, hasil karya Presiden
Jokowi dan kabinetnya selama tiga bulan pertama bakal langsung
terpengaruh oleh kondisi mutakhir dinamika politik ini. Namun, sejauh
ini, belum ada indikasi pasar merespons tertentu (negatif) terhadap
fenomena politik tersebut.
Di tengah kemelut calon Kapolri Komisaris
Jenderal Budi Gunawan yang ditetapkan sebagai tersangka kasus
gratifikasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan penetapan
status serupa kepada Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto dengan sangkaan
mengarahkan saksi untuk membuat kesaksian palsu dalam sidang di Mahkamah
Konstitusi, indeks harga saham gabungan (IHSG) justru sedang asyik
memecahkan rekor di atas 5.300. Kalaupun kemudian terjadi koreksi, akhir
pekan lalu IHSG ditutup pada level tinggi dan `hijau' pada
5.289.Sedemikian `sakti'-nyakah perekonomian Indonesia sehingga
bergeming dan tidak terpengaruh oleh tensi politik yang meningkat?
Tulisan ini mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada beberapa indikator
ekonomi makro kita, serta bagaimana prospeknya jika `akrobat' politik
pemilihan Kapolri dan perseteruan Polri versus KPK terus berlangsung.
Soal IHSG yang terus menguat, sebenarnya yang terjadi ialah sudah
terjadi kejenuhan rally indeks harga saham Dow Jones di New York. Ketika
perekonomian AS terlihat tanda-tanda membaik, terutama ditunjukkan
dengan pertumbuhan ekonomi 2,7% pada triwulan III/2014 dan pengangguran
turun menjadi 5,6% pada Desember 2014, terjadilah arus modal balik dari
seluruh dunia ke AS (sudden reversal). Gairah arus balik modal itu
menyebabkan dua hal; kurs dolar AS menguat dan indeks Dow Jones juga
mengalami rally (menguat).
Puncaknya ialah indeks Dow Jones
mencapai rekor baru di atas 18.000.Kondisi ini sudah jauh melebihi level
sebelum krisis subprime mortgage 2008, indeks hanya sekitar 17.000.
Level pengangguran di AS juga turun drastis ke 5,6%, dari level terburuk
10% pada 2009.Inflasi juga terjaga pada level rendah 1,6%. Karena
indikator-indikator ekonomi makro ini banyak yang membaik, The Fed (bank
sentral AS) pun menghentikan program quantitative easing (stimulus
moneter berupa pencetakan uang baru
yang me ny e b a b
kan li kuiditas
melong g a r ) ,
serta be
rencana menaikkan
suku bunga acu an (Fed funds rate)
yang kini 0,25% men jadi maksimal 1% pada
akhir 2015.
Namun, rencana kenaikan suku bunga tersebut tidak
kunjung dieksekusi. Penyebabnya otoritas moneter AS pun mulai ragu-ragu,
apakah tepat menaikkan suku bunga ketika kurs dolar AS tengah menguat
terhadap mata uang seluruh dunia? Jika suku bunga dinaikkan, kurs dolar
AS akan terus menguat, bagaimana jadinya dengan posisi neraca
perdagangan AS? Bagaimana dengan nasib sektor turisme AS? Orang akan
enggan datang ke AS karena berwisata di AS menjadi terlalu mahal.
Sebaliknya, orang AS justru akan menikmati murahnya perjalanan ke luar
negeri karena kurs dolar AS yang menguat.
Meski berkali-kali
Kepala The Fed Janet Yellen selalu mengatakan rencana kenaikan suku
bunga AS bakal segera dieksekusi, tetapi kebimbangan terebut masih terus
terasa. Belum tentu AS benar-benar jadi melaksanakannya sesuai dengan
rencana.
Di tengah kegalauan tersebut, timbul kesadaran pula
bahwa perekonomian AS sebenarnya belum benar-benar normal.Pengangguran
5,6% memang sudah turun dari 10%, tetapi itu belum mencapai level normal
4%, sebagaimana level dulu sebelum 2008. Karena itu, sebenarnya
kebijakan moneter longgar (easy money) masih diperlukan. Suku bunga
rendah seperti sekarang masih dirasa relevan.Masih percaya
Berkecamuknya analisis seperti ini menyebabkan para pemilik modal global
mulai mengalirkan dananya dari New York ke bursa-bursa efek seluruh
dunia, terutama di negara-negara emerging markets yang pertumbuhan
ekonominya masih relatif tinggi, seperti Tiongkok
(7,3%), India (6%), dan Indonesia (5,1%).Itulah sebabnya IHSG di Jakarta
masih terus melesat, meski diterpa gonjangganjing kasus perseteruan KPK
dan Polri tersebut.
Soal rupiah melemah menjadi 12.600an per
dolar AS, saya duga, sejauh ini belum terpengaruh oleh kasus politik
domestik kita. Fenomena melemahnya rupi
ah le
b i h dise
babkan memang
secara ala miah dolar AS
menguat terhadap seluruh mata uang du
nia. Munculnya kebijakan quantitative easing (QE) di Eropa
juga menekan kurs euro sehingga menyebabkan kurs
dolar AS se makin berkibar. Karena itulah, rupiah
akhir-akhir ini kembali tertekan melemah.
Masalahnya, sampai kapan indikator ekonomi makro kita te
tap tegar menghadapi gempuran sentimen negatif dari fenomena
politik? Saya rasa tetap ada ba tasnya. Pada saat ini pasar
masih percaya bahwa Presiden Jokowi akan bisa menguasai
keadaan se hingga para pemilik modal global masih mau
mengalirkan dananya ke Indonesia, melalui pintu masuk bursa
efek sehingga IHSG tetap tinggi.
Namun, pada titik tertentu
nanti, jika permasalahan KPK-Polri terus berlarutlarut dan mulai
menunjukkan bahwa Presiden Jokowi ternyata tidak sepenuhnya memegang
kemudi kekuasaan sehingga tidak bisa mengambil keputusan secara
independen, serta tidak bisa lagi mendengarkan `suara rakyat', pasar pun
bisa berbalik terpengaruh. Tatkala pasar terpengaruh sentimen negatif
ini, IHSG dan rupiah pun akan sama-sama meluncur lemah.
Karena
itu, saya berharap agar Presiden Jokowi tidak menganggap bahwa kegaduhan
politik seputar kisruh KPK vs Polri merupakan hal yang bisa
diisolasi.Memang benar bahwa untuk sementara ini masalahnya bisa
dilokalisasikan atau diisolasi sehingga tidak berpengaruh terhadap
indikator-indikator ekonomi yang biasanya sensitif, seperti kurs rupiah
dan IHSG. Namun, menurut saya, itu sifatnya sementara atau dalam jangka
pendek.Bisa tergerus Dalam jangka menengah dan panjang, cepat atau
lambat, hal itu akan berpengaruh juga. Pada dasarnya, para pemilik
modal global pasti akan lebih suka me nempatkan dananya ke negara-negara
yang kondisi politiknya stabil.
Indonesia selama ini
dipersepsikan sebagai negara dengan stabilitas politik tinggi, misalnya
jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Filipina
(diganggu oleh kelompok separatis Moro), atau Thailand (kudeta militer
yang sering berulang).
Indonesia memang relatif stabil dari
gangguan konflik fisik seperti di Filipina dan Thailand. Namun, jika
dinamika politik seperti kasus KPK versus Polri ini tidak dikelola
dengan baik, kualitas kepemimpinan (leadership) Presiden Jokowi pun
lambat laun akan tergerus.
Ketika kepemimpinan menjadi lemah,
ditambah dengan komitmen memberantas korupsi dipertanyakan, para pemilik
modal pun menjadi ragu-ragu untuk menanamkan uang mereka di Indonesia.
Di saat itulah potensi terjadinya keluarnya modal dari Indonesia
(capital outflows) menjadi kian besar.
Presiden Jokowi sudah
harus menyadari situasi ini. Perekonomian Indonesia amat memerlukan
masuknya modal asing untuk memperkuat cadangan devisa sehingga dapat
memperkuat kurs rupiah. Di depan mata kita tetap ada potensi AS
menaikkan suku bunganya, yang hanya bisa dilawan dengan masuknya modal
asing ke sini (capital inflows).
Jika kenaikan suku bunga AS
juga dilawan dengan kenaikan suku bunga acuan BI rate, hasilnya ialah
kontraproduktif. Kenaikan suku bunga dari posisi BI rate saat ini 7,75%
hanya akan menjerumuskan sektor finansial kita ke lembah likuiditas yang
makin ketat. Ini sebuah situasi yang pada tahun lalu menyebabkan
rendahnya ekspansi kredit perbankan (12%) dan rendahnya pertumbuhan
ekonomi (5,1%).
Presiden Jokowi hendaknya berani mengambil sikap
untuk hanya memihak pada upaya memerangi korupsi, agar menegakkan
kembali wibawanya sebagai presiden.
Langkah itu selanjutnya juga
akan menggaransi bahwa modal global akan terus mengalir masuk sehingga
likuiditas menjadi kian longgar.
Hanya dengan cara itulah kita
masih bisa menggantungkan asa mencapai pertumbuhan ekonomi lebih tinggi
pada 2015. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,8%, yang rasanya
pasti sulit dicapai kalau kita terjerumus pada konflik politik di
seputar KPK versus Polri yang berkepanjangan.
Pertumbuhan ekonomi tinggi hanya dapat dicapai jika didukung stabilitas politik, tidak berisik seperti sekarang.
Sumber Media Indonesia