Menegakkan Khitah Indonesia 1945
Muhammadun Peneliti Lajnah Ta'lif wan Nasyr (LTN) PWNU DIY, Analis Studi Politik pada Program Pascasarjana UIN Yogyakarta
BILA mencermati lang kah dan gerak Nah dla tul Ulama
(NU), tidak bisa dimungkiri bahwa jalan perjuangan NU selalu
berdiri tegak untuk membela kemanusiaan dan keindonesiaan. Semangat
perjuangan NU digelorakan para pendirinya, khususnya KH M Hasyim Asy'ari
yang tak pernah surut langkah untuk menegakkan Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI). Berdiri pada 31 Januari 1926, NU sebenarnya wadah
pengembangan perjuangan para kiai pesantren yang telah lama menentang
kolonialisme dan penjajahan.
Gerak perjuangan NU sangat dibutuhkan
bangsa ini. Jalan bangsa ini selalu berliku, seiring dengan banyaknya
tantangan yang dihadapi. Reformasi yang bergulir pada 1998 belum menjadi
roh pergerakan, tapi justru sering kali dijadikan jalan politik untuk
kepentingan sesaat. Semangat Indonesia 1945 tidak banyak disuarakan,
malah sering dinafikan. Gerak perjuangan Indonesia 1945 lebih banyak
menjadi slogan, miskin aksi dan aktualisasi un tuk menjawab tantangan
Indonesia masa depan.
NU dalam kesejarahannya menorehkan banyak
catatan, terlebih dalam berdirinya NKRI. Bukan saja keterlibatan
kultural, NU sangat intensif terlibat dalam merumuskan arah dan gerak
negara ini. Hasyim Asy'ari, Wahid Hasyim, dan Abdurrahman Wahid mungkin
menjadi trisula NU, baik secara geneologis maupun ideologis, yang
mencatatkan gerak perjuangan NU untuk `NKRI harga mati'. Trisula NU
tersebut tentu saja tidak sendirian karena mereka dikerubungi ribuan
kiai, ribuan pesantren, jutaan santri, dan jemaah yang tersebar di
seluruh Indonesia.Khitah Indonesia 1945 Tentu saja, jejak kesejarahan
NU mempunyai makna sangat krusial dalam menjaga tegaknya NKRI. Tak
salah kemudian kalau pada 2012 NU menggelorakan semangat kembali kepada
Khitah Indonesia 1945. Gelora Khitah Indonesia 1945 itu berangkat dari
pengalaman NU ketika mengalami krisis dan kemerosotan pada dasawarsa
1970-an. Maka, pada awal 1984, NU menemukan solusi yaitu kembali ke
spirit NU 1926, kemudian dicanangkan agenda kembali ke khitah 1926.
Walaupun saat itu banyak yang menentang karena dianggap langkah mundur,
kemudian terbukti bahwa langkah NU kembali ke khitah itu telah memberi
inspirasi baru untuk kebangkitan NU sebagai tonggak dalam menentukan
langkah ke depan, bahkan kemudian NU bisa diakui secara internasional.
Dari sini, NU mendesak bangsa ini agar kembali ke khitah Indonesia
1945, yang merupakan kembali ke jati diri bangsa ini yang diwarnai de
ngan semangat kemerdekaan, menciptakan keadilan dan kesejahteraan, serta
membangun kedaulatan nasional yang lepas dari segala macam bentuk
penjajahan. Kembali ke khitah Indonesia 1945 berarti kembali ke semangat
proklamasi, nilainilai Pancasila, semangat Pembukaan Undang-Undang
Dasar 1945, serta kembali pada nilai luhur UUD 1945, yang berdasarkan
pada nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kekeluargaan,
permusyawaratan, serta perjuangan keadilan.
Munas NU 2012 tegas
sekali menguraikan bahwa kembali
ke khitah 1945 tersebut tidak berarti menolak segala bentuk perubahan
terhadap UUD 1945. Demikian juga tidak menyakralkan hasil amendemen yang
sudah dilakukan. Sesuai dengan amanat Pasal 37 UUD, itu perlu
disempurnakan. Khitah Indonesia 1945 merupakan keseluruhan cita-cita
bangsa ini
yang berproses sejak zaman Kebangkitan Nasional yang kemudian dirumuskan
menjadi dasar negara Pancasila, dicetuskan melalui Proklamasi Ke
merdekaan, dirumuskan menjadi Pembukaan UUD, serta dirinci ke dalam
Batang Tubuh UUD 1945 secara tuntas dan menyeluruh.
Karena
itu, dalam kon teks kembali ke khi tah
Indo SENO nesia
1945 ini, NU ber usaha
kembali menegaskan Pan casila sebagai ideologi
negara, barang siapa mengganggu atau menentangnya harus segera
dicegah karena ia musuh negara. NU juga
mendesak dalam UUD itu ada pasal yang menegaskan bahwa Mukadimah UUD
1945 yang telah ada itu sama sekali tidak boleh diubah atau diamendemen
karena mukadimah tersebut menjadi pedoman yang memuat filosofi serta
arah perjuangan bangsa ini.Indonesia masa depan “Nilai dasar
demokrasi adalah memanusiakan manusia dan mengaturnya agar pola hubungan
antarmanusia itu dapat saling menghormati perbedaan dan mampu bekerja
sama sehingga menciptakan kesejahteraan bersama,“ demikian yang selalu
ditegaskan KH Wahab Hasbullah, penggerak berdirinya NU. Kiai Wahab
mengaktualisasikan gagasannya dari gurunya, KH Hasyim Asy'ari, yang
selalu menegaskan bahwa agama harus menjadi inspirasi dan basis etik
dalam membangun demokrasi. Sinergi agama dan nasionalisme dalam
membangun Indonesia, bagi Kiai Hasyim, akan menjadikan Indonesia masa
depan sebagai negara yang bermartabat.
Basis agama yang sinergis
dengan nasionalisme itu harus menjadi tonggak utama NU dalam mengawal
khitah Indonesia 1945. Pertama, NU harus selalu berani mempertaruhkan
dirinya demi tegaknya NKRI harga mati. Siapa pun yang merongrong NKRI,
maka NU harus siap berada di barisan paling depan untuk membela NKRI.
Apa pun yang dikerjakan NU, harus berorientasi menjaga dan menegakkan
NKRI.Di sinilah, NU bagi Kiai Sahal Mahfudh, Rais Am PBNU (1999
2014), sebenarnya menjalankan politik tingkat tinggi, yakni politik
kebangsaan, politik kerakyatan, dan etika politik.Dengan politik tingkat
tinggi, NU akan tetap terdepan dalam menjaga NKRI.
Kedua, NU
harus selalu berdiri di depan dalam menegakkan kemandirian bangsa. Jejak
NU dan pesantren terbukti selalu menjaga kemandiriannya. Kemandirian NU
dan pesantren harus menjadi salah satu tonggak kemandirian bangsa
ini.Kalau bangsa ini berani tegak mandiri, kedaulatan bangsa tak bisa
diganggu gugat. Indonesia masa depan harus siap dengan etos mandiri
karena harus bergerak di tengah gejolak masyarakat ekonomi global, yang
dimulai dari MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN).Warga NU yang berada di
berbagai pelosok desa harus siap dengan kemandirian sehingga Indonesia
masa depan semakin gemilang.
Ketiga, mengembangkan kader anak
bangsa yang berkarakter. Menyiapkan generasi bangsa yang berkarakter dan
berintegritas menjadi tugas besar NU karena dari sosok yang berkarakter
dan berintegritas, agenda bangsa masa depan bisa direalisasikan. Peran
NU dalam lembaga pendidikan, pendidikan keagamaan, dan pendidikan
kebangsaan mutlak harus segera diperkuat dari semua lini, khususnya
dimulai dari pelosok desa.
Semangat perjuangan inilah yang harus
digelorakan NU sehingga khitah Indonesia 1945 bisa dijalankan dengan
baik dan bermartabat.
Sumber : Media Indonesia
