Mencari Keuntungan dari Buah Naga
LANGKAH kaki Haji Taryubi, 66, cukup lincah menapaki
pematang sawah yang dipenuhi tanaman padi dengan rata-rata usia dua
bulan. Sepeda motornya diparkir di tepi saluran irigasi kecil.
Di
sebelah sawahnya terdapat hamparan perkebunan buah naga. Taryubi, selain
menanam padi, juga membudidayakan buah naga. Kebun buah naga milik
Taryubi tepat di tengah areal persawahan di Desa Cikakak, Kecamatan
Banjarharjo, Brebes, Jawa Tengah. “Di desa ini hanya ada dua orang yang
menanam buah naga, saya dan teman saya,“ kata Taryubi saat berbincang,
Senin (9/2).
Ia kemudian menatap kebun buah naganya yang seluas
hampir 1 ha. Menurutnya, ia memulai budi daya buah naga setelah tertarik
mendengar cerita seorang tamu dari Banyumas yang bertandang ke rumah
tetangganya.
“Saya tertarik cerita tamu tersebut yang sudah
lebih dahulu menanam buah naga.Selain memeliharanya mudah, keuntungannya
juga banyak,“ tutur Taryubi dengan penuh semangat.
Budi daya buah naga itu diakui Taryubi sangat berat, sebab ia harus mengeluarkan modal cukup banyak. Untuk 1
ha diperlukan modal Rp500 juta.
“Tapi kalau sudah panen sekali,
berikutnya tidak usah menanam lagi. Saya tinggal memanen setiap delapan
bulan,” kata Taryubi.
Untuk pupuknya cukup menggunakan pupuk kandang dari kotoran kambing.
“Meskipun menggunakan pupuk kandang, kebutuhannya tetap besar sekitar
70 ton,” jelas Taryubi.
Ia juga memanfaatkan ban bekas motor
untuk media perambatan sekaligus penyangga tanaman. Hampir 1.000 ban
motor bekas ia gunakan dalam budi daya buah naga.
“Untuk mendapatkan ban bekas, saya beli dari bengkel ke bengkel, keluar masuk desa,” ucapnya.
Selain
ban bekas sepeda motor, juga dibutuhkan batangan kayu aneka jenis pohon
sekitar 1 meter untuk mengikat tanaman buah naga yang jumlahnya
mencapai ribuan.
Menurut rencana, batangan kayu itu akan diganti
dengan batangan cor-coran. Menjelang Tahun Baru Imlek, buah naga cukup
laku di pasaran. Sayangnya, buah naga milik Taryubi baru bisa dipanen
bulan depan. “Panennya masih sebulan lagi. Terkadang saya petik sendiri
dan dimakan sekeluarga atau diberikan ke tetangga dan saudara,” ujar
bapak tiga anak itu.
Namun, ia optimistis setelah Imlek, buah
naga miliknya tetap laku dijual karena konsumen buah tersebut cukup
banyak, sehingga ia bisa mendulang keuntungan.
Harga buah naga saat ini di tingkat petani rata-rata Rp15 ribu per kg, sedangkan di supermarket bisa mencapai Rp30 ribu per kg.
(Supardji Rasban/N-4)
Sumber : Media Indonesia
|
|
|
|
