Pengoplosan pupuk jadi salah satu penyebab hilangnya pupuk bersubsidi.
Petani nakal juga ikut berperan.
Petani nakal juga ikut berperan.
TAHUN
ini, pemerintah me nargetkan produksi gabah kering
giling sebesar 73 juta ton. Pencapaian pada 2015 itu akan
menjadi fondasi bagi tercapainya swasembada pangan yang ditargetkan
Presiden Joko Widodo bisa diraih dalam tempo tiga tahun ke depan.
Di
Jawa Tengah, Gubernur Ganjar Pranowo dibebani target harus mampu
memproduksi padi sebesar 2 juta ton tahun ini. Selain perbaikan
infrastruktur pertanian, seperti irigasi, bendungan, dan peralatan
pertanian, Ganjar pun berkonsentrasi pada ketersediaan pupuk.
Januari lalu, ia mendirikan PT Citra Mandiri Jawa Tengah, unit
distribusi pupuk di bawah perusahaan daerah, yang bertugas mengendalikan
distribusi pupuk bersubsidi. Dua produsen pupuk digandeng, yakni PT
Pupuk Sriwijaja dan PT Petrokimia Gresik.
“Kami membuat sistem
pengelolaan pupuk yang benar dengan enam target, yakni jenis, jumlah,
harga, tempat, waktu, dan mutu,“ kata politikus PDI Perjuangan itu.
Operasi perusahaan bertujuan memangkas mata rantai dan menghilangkan
penyelundupan dan penimbunan pupuk bersubsidi. PT Citra Mandiri
mendistribusikan pupuk ke pengecer, yang selanjutnya menyalurkannya ke
petani.
“Ini untuk membantu petani, sekaligus menjadi contoh berbisnis dengan cara yang benar,“ lanjut Ganjar, de
ngan berbinar, kala itu.
Tidak lebih dari satu bulan, binar di
wajah dan mata pria kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah, itu berubah
menjadi kemarahan. Bukan, itu bukan karena soal PT Citra Mandiri.
Kabar tak sedap yang membuatnya berang ialah adanya pengoplosan pupuk
yang dilakukan pemburu rente di Kabupaten Demak. Pelakunya Kasmadi,
warga Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak.
Di lokasi penggilingan
padi miliknya yang berada di Desa Bango, Kecamatan Demak Kota, Kasmadi
mempekerjakan sejumlah orang untuk mengoplos pupuk. ia mengubah pupuk
bersubsidi menjadi pupuk nonsubsidi dengan hanya mencampurkan cairan
kimia hidrogen peroksida (H2O2). Cairan itu mengubah tampilan pupuk
subsidi yang merah menjadi putih layaknya pupuk nonsubsidi.
Ganjar geregetan karena usaha menyimpang Kasmidi itu sudah berlangsung empat tahun. “Ke mana aparat?
Saya heran, empat tahun berjalan, kok baru sekarang bisa dibongkar,“ kata sang gubernur saat melihat gudang pengoplosan itu.
Saya heran, empat tahun berjalan, kok baru sekarang bisa dibongkar,“ kata sang gubernur saat melihat gudang pengoplosan itu.
Kegeraman alumnus Universitas Gadjah Mada itu makin memuncak karena
berselang tiga hari kemudian, praktik serupa diseroboki terjadi di
Kabupaten Tegal. Kali ini, pemilik usahanya ialah Mohamad Imam Noval,
28.Lokasi pengoplosan berada di sebuah gudang di Jalan Raya Dampyak Km
3, Kelurahan Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal.
Kedua pelaku kejahatan terhadap pertanian itu mendapat pupuk bersubsidi
dengan membeli dari kios pengecer. Setelah warnanya diubah, mereka
memindahkannya ke karung lain sebagai pupuk nonsubsidi.
Kantong
Kasmadi dan Noval bertambah tebal karena mereka membeli pupuk bersubsidi
dengan harga Rp1.800 per kilogram dan menjualnya sebagai pupuk
nonsubsidi yang harganya bisa mencapai Rp4.800.
“Saya baru lima
bulan menjalan usaha ini. Saya tergiur hasilnya yang lumayan besar,“ aku
Noval.Aksi borong Ganjar meminta aparat menghukum Noval dan Kasmidi
seberat-beratnya.“Di banyak daerah, petani mengalami kesulitan
mendapatkan pupuk subsidi.Tapi, mereka bisa dapat banyak pupuk subsidi
dan menjualnya dengan harga tinggi.“
Ia menilai Noval dan
Kasmidi telah melakukan kejahatan besar. Mereka merugikan petani dan
mengganjal program swasembada yang tengah dicanangkan pemerintah.
Jawa Tengah memang patut melakukan pengawasan ketat terhadap peredaran
pupuk bersubsidi. Target panen mencapai 2 juta ton gabah tahun ini
menjadi tantangan yang sangat besar.Apalagi, daerah itu juga dihadapkan
pada keterbatasan lahan akibat alih fungsi lahan.
Pupuk pun
menjadi sangat penting karena keterbatasan lahan harus disiasati dengan
peningkatan produksi.
Tahun ini, kebutuhan pupuk di Jawa Tengah diestimasikan mencapai 1,17
juta ton pupuk urea, 309.724 ton pupuk SP-36, 289.804 ton pupuk ZA,
532.379 ton pupuk NPK, dan 191.891 pupuk organik. Dengan subsidi
pemerintah, petani bisa mendapatkan urea dengan harga Rp1.800 per
kilogram, SP-36 Rp2.000, ZA Rp1.400, NPK Rp2.300, dan pupuk organik
Rp500 per kilogram.
Entah karena ulah Noval dan Kasmidi, atau
sebab lain, di awal musim tanam ini, kelangkaan pupuk bersubsidi juga
mulai terasa di beberapa daerah di Jawa Tengah. Banyak petani yang sulit
mendapatkan pupuk meski sudah menunggu di gudang pengecer pupuk.
“Saya sudah berputar-putar mencari, tetapi hingga saat ini belum ada
pupuk bersubsidi, padahal kami sedang memasuki musim tanam,“ kata
Rahadi, 51, petani di Undaan, Kudus, awal pekan ini.
Ketua
Kelompok Tani Nelayan Andalan Jawa Tengah Agus Eko Cahyono mengakui
petani masih kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi. “Februari ini
seharusnya ketersediaan pupuk bersubsidi sudah normal karena ada pasokan
dari pabrik.“
Ia menduga kelangkaan pupuk bersubsidi juga
terjadi akibat aksi borong petani. Mereka khawatir atas rencana
pemerintah menghapus pupuk bersubsidi.
“Kecemasan petani itu kan
tidak terbukti. Tahun ini pemerintah masih tetap menggelontorkan subsidi
pupuk sebesar Rp28 triliun, atau 9,5 juta ton,“ tandas Agus Eko.
Sebab kelangkaan lain ditemukan Deni Giri, staf penjualan PT Pupuk
Kaltim Cabang Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia menemukan pelonjakan harga
pupuk bersubsidi jenis urea sampai Rp300 ribu per sak di Kabupaten
Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, karena ulah petani.
“Pupuk
bersubsidi hanya dibagikan kepada petani yang tergabung dalam kelompok
tani dan telah menyerahkan rencana definitif kebutuhan kelompok.
Akibatnya, petani yang belum tergabung dalam kelompok otomatis harus
mencari sendiri kebutuhan pupuknya,“ paparnya.
Momentum itu
dimanfaatkan petani yang sudah membeli pupuk. Mereka menjual jatah pupuk
itu untuk petani yang belum tergabung dalam kelompok dengan harga
mahal.
Salah satu buktinya terjadi pada 6 Februari lalu, saat
Pupuk Kaltim menggelontorkan 100 ton pupuk urea di Kecamatan Komodo.
Tidak perlu waktu lama, petani yang selama ini kesulitan memperoleh
pupuk mengaku sudah mendapatkannya.
“Dari seharusnya Rp90 ribu
per sak, saya terpaksa membelinya dengan harga Rp300 ribu karena butuh
untuk segera memupuk,“ kata Valentinus Bino, petani. (PO/N-3)
achmad_safuan @mediaindonesia.com
AKHMAD SAFUAN
Sumber : mediaindonesia.com
