Kamis, 12 Februari 2015

Pengamat: Banyak Program Aspirasi Dewan Aceh Asal Jadi




 
 
Pengamat: Banyak Program Aspirasi Dewan Aceh Asal Jadi
Muhajir Juli I The Globe Journal
Kamis, 05 Februari 2015 11:54 WIB
Banda Aceh- Program aspirasi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) masih banyak yang belum memberikan efek jangka panjang. Sifatnya masih sekedar menghabiskan anggaran dan project oriented. Demikian pendapat Aryos Nivada, Pengamat Politik dan Keamanan, Kamis (5/2/2015).
Kepada The Globe Journal, dia menjelaskan, dalam pengelolaan dana aspirasi, keterbukaan mata anggaran tidaklah cukup. Bentuk pertangungjawaban ke publik, termasuk didalamnya adalah ketepatan pengalokasian, berefek jangka panjang dan tidak semata project oriented.
Hal ini yang masih sangat kurang terlihat dari program aspirasi DPRA tahun 2015. Dia melihat baik yang mempublish maupun yang masih menyembunyikan programnya –ketahuan dari tracking- masih sama-sama mengedepankan program asal ada. Sehingga berpotensi menguras uang Negara untuk hal-hal yang tidak penting.
“Dalam analisa saya, program aspirasi dewan masih sebatas upaya menghabiskan anggaran saja. Belum ada kajian yang komperehensif terkait kegunaan dana yang dikeluarkan,” Kata Aryos.
Dia mencontohkan, pembangunan tugu air mancur, lapangan Volly, pengadaan celana dalam, dan lain sebagainya, menunjukkan bahwa program aspirasi dewan masih sebatas menghabiskan uang saja. Efek jangka panjangnya belum terlihat.
Aryos menduga, hal ini diakibatkan oleh politik balas jasa serta gagalnya para wakil rakyat memetakan kebutuhan Aceh yang berbasis pembangunan menyeluruh dan jangka panjang.
Selain itu, program asal jadi tersebut juga berpeluang untuk terjadinya tindak pidana korupsi. Mulai dari pembagian fee hingga modus PL. “Mata anggaran yang dibuat kecil-kecil. Banyak yang tidak bisa di tender. Ini berbahaya bagi akuntabilitas serta ketepatan penggunaan anggaran terancam,” Ujar Aryos.
Aryos berharap, agar Pemerintah Aceh melalui dinas terkait bisa menngkritisi berbagai program aspirasi dewan. Bila perlu, harus di singkronkan dengan visi dan misi rezim Zikir. Sehingga antara legislatif dan eksekutif saling mendorong ke depan.
Dia berharap Gubernur Aceh, Zaini Abdullah tidak serta merta menyerahkan koreksi program aspirasi dewan ke Mendagri. Pihak pemerintah daerah harus pro aktif. Hal ini untuk menjaga marwah di mata Jakarta.[]

Sumber : http://theglobejournal.com