Uang Aceh belum Makmurkan Rakyat
Selasa, 24 Februari 2015 14:35 WIB

Wakil
Ketua DPRA, Irwan Djohan menandatangani tuntutan mahasiswa di punggung
Anggota DPRA, Bardan Sahidi saat aksi mahasiswa dari Badan Eksekutif
Mahasiswa (BEM) Unsyiah di depan Gedung, Senin (23/2). Mahasiswa
menuntut anggota Dewan untuk berpihak dan memperjuangkan aspirasi rakyat
dan tidak mengedepankan kepentingan golongan. SERAMBI/M ANSHAR
AKTIVIS mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa
(BEM) Unsyiah menggelar aksi di depan Gedung DPRA di Banda Aceh, Senin
(23/2). Mahasiswa menuntut legislatif dan eksekutif Aceh agar
menggunakan uang rakyat semata-mata untuk kegiatan prorakyat.
Presiden
Mahasiswa Unsyiah, Muhammad Hamzah mengatakan, hampir 10 tahun
perjanjian damai RI-GAM, Aceh belum juga makmur. Selama ini para
pemimpin dan wakil rakyat hanya memikirkan kepentingan kerabat,
kelompok, dan golongan tertentu. Korupsi tumbuh subur. “Ada sekitar Rp
5,2 triliun anggaran yang tidak berpihak rakyat dan sarat kepentingan
elite politik,” tandas Hamzah.
Menurut Hamzah, dalam catatan
mahasiswa, ada 10 kegiatan penggunaan anggaran daerah yang tidak
prorakyat. Di antaranya penyertaan modal investasi kepada Badan Usaha
Milik Aceh (BUMA) untuk PT Investa, PDPA, PT MIF, PT Bank Aceh, dan PT
BPR Mustaqim dengan total anggaran Rp 283.804.841.916.
Selain itu,
untuk aspirasi dewan sebesar Rp 405 miliar yang tersebar dalam bentuk
program hibah, bansos, dan PBJ. “Diduga jatah alokasi Rp 5 miliar sampai
Rp 7 miliar per anggota dewan ini terjadi tarik menarik antara
kepentingan dewan dan birokrat,” sebutnya.
Amatan Serambi,
kehadiran aktivis mahasiswa ke depan Gedung DPR Aceh mendapat pengawalan
pihak kepolisian. Aksi demo dimulai sekitar pukul 10.00 WIB di luar
pintu pagar gedung. Mereka mengusung beberapa spanduk dan karton
bertuliskan antara lain, “APBA bukan Warisan” dan “Menuntut APBA
Prorakyat”.(mz)
Sumber : Serambi Indonesia