Kamis, 29 Januari 2015

Bersih, Bersih



27/01/2015

by Admin Publisher

SUDAH berulangkali di lajur ini disebutkan, para pejabat negara harus bersih. Bagaimana mungkin sapu kotor bisa membersihkan ruangan kotor, ayak-ayak waek (ada-ada saja).

Ini kesan pertama ketika publik disuguhi tontonan dramatis pelakunya sama-sama penegak hukum yang semestinya bersih dan mengagungkan keadilan.

Rakyat tahu kedua lembaga negara ini merupakan parameter negara. Apabila baik yudikatif (Kejagung, Polri, KPK) akan baiklah eksekutif  dan legislatif.

Konkretnya unsur-unsur yang merupakan elemen yudikatif  harus bersih, barulah bisa membersihkan unsur-unsur lainnya  yang bobrok dalam tatanan negara.

Mulanya, Bambang Widjojanto dan KPK Abraham Samad mengumumkan  calon Kapolri Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka rekening gendut.

Hal itu membuat Polri tak mau kalah, Bareskrim Polri menangkap Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto sebagai tersangka kasus pemberian keterangan palsu di Mahkamah Konstitusi 2010.

Nah, ini adegan babak kedua ‘cicak vs buaya’. Polri versus KPK, saling mengungkap keburukan yang feedback-nya baik KPK maupun Polri sama-sama buruk, menyimpan kebusukan.

KPK selama ini dianggap paling bersih, sehingga bertindak tegas dan tedeng aling-aling, banyak sudah pejabat, kepala daerah, penyelenggara negara dimasukkan ke penjara. Bambang Widjojanto?

Aneh juga, kenapa baru sekarang? Padahal kasusnya tahun 2010. Bagaimana bisa DPR RI  kecolongan saat melakukan fit and proper test terhadap pimpinan KPK. Begitu juga terhadap calon Kapolri Komjen Budi Gunawan yang digaris tinta merah bisa lolos.

Apa pun ceritanya sekarang ini ialah kedua institusi penegak hukum (KPK, Polri) itu harus dibersihkan dari bentuk-bentuk penyimpangan, pelanggaran hukum dan korup.

Supaya kedua institusi tersebut benar-benar bersih, sehingga tidak terjadi gesekan-gesekan, karena figurnya bersih-bersih. ‘Save KPK, save Polri’, kata Presiden Jokowi.

Sumber: Harian Orbit.

http://nblo.gs/12WKiq