Kompasiana.comSelasa, 27 Januari 2015 10:29 WIB
SERAMBINEWS.COM - BELUM tiga bulan menjabat,
Presiden Jokowi sudah mendapat banyak ujian. Ujian terakhir adalah
pencalonan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai kepala Kepolisian
Negara Republik Indonesia. Syukurlah, Presiden mengikuti nuraninya
dengan menggunakan moralitas hukum sebagai patokannya, yakni tidak
menjadikan seorang tersangka sebagai kepala Polri. Jokowi pun lulus
ujian.
Namun, ke depan, tampaknya bukan madu, teh manis, apalagi cokelat
hangat plus donat yang akan disuguhkan untuk Presiden Jokowi. Mencoba
berpikir positif, barangkali justru suguhan kopi pahit yang akan membuat
Jokowi tahan tidak tidur, siap bekerja maraton memimpin kabinetnya.
Kabinet Kerja menjadi tanda karakter dan kehadiran sosok Jokowi. Ia
bukan tipe pemimpin yang suka berlarat-larat dengan abstraksi teori atau
balon-balon jargonisme, melainkan sosok yang cak-cek (ringan bekerja).
Ukuran pemaknaan diri dari Jokowi adalah ”guna” dan ”manfaat sosial”.
Baginya, pemimpin harus punya passion dalam mewujudkan tiga kata kunci
kepemimpinan, yaitu integritas, komitmen, dan kapabilitas.
Pemimpin yang punya passion pengabdian atau pelayanan selalu
merasa bersalah jika banyak diam, apalagi mengeluh ketika menghadapi
tantangan yang membutuhkan jawaban demi kemaslahatan sosial.
Berkubang dengan segala macam risiko menjadi konsekuensi logis.
Berlepotan dengan lumpur persoalan jauh lebih bermakna dan indah
daripada duduk di kursi empuk, menghirup udara AC, mat-matan makan-minum
sambil mengobrol dan merenda pencitraan. Gaya hidup beraroma ala priayi
yang borjuistik tak cocok bagi pemimpin seperti Jokowi.
Jokowi tipikal manusia empiris, yakni manusia yang memaknai
tindakan—baik secara etik atau pragmatik—sebagai modus eksistensial
(aktualisasi diri) untuk memasuki dan menemukan nilai-nilai otentik yang
bermuara pada martabat.
Manusia empiris tidak menyembah kata-kata dan hipokrisi, tetapi penuh
ketulusan mengubah atau mentransformasikan gagasan ke dalam daging
realitas. Ketika berhadapan dengan daging realitas, ia mengerahkan
segala kemampuannya untuk melahirkan karya-karya yang bernilai dan
bermakna bagi publik.
Pribadi yang berorientasi pada kemaslahatan kolektif adalah pribadi
yang solider, yakni pribadi yang tidak sibuk mengurusi agenda dan
kepentingan pribadi, tetapi peduli kepada kepentingan orang banyak.
Cita-cita yang melekat dalam dirinya adalah keinginan untuk selalu
hamemayu hayuning buwana lan menungsa (memperindah dunia dan
menyelamatkan umat manusia/rakyat/bangsa).
Tentu, dalam pribadi yang solider terkandung elan filantropik; yakni
jalan kemuliaan untuk mendarmakan seluruh totalitas diri, kemampuan, dan
segala miliknya demi keselamatan umat manusia.
Sudah sangat lama di negeri ini tidak lahir pemimpin khas, yakni
pemimpin yang berkarakter solider, punya passion pengabdian, pu- nya
elan filantropik, dan berspirit profetik.
Seluruh cita-cita tentang kemuliaan watak macam itu memang sedang
runtuh sehingga—meminjam istilah budayawan Radhar Panca Dahana—yang
tersisa hanyalah remah-remah atau remukan menungsa.
Akibatnya, hampir semua orang, terutama mereka yang mengaku sebagai
pemimpin, hanya punya horizon sempit terkait kepentingan dirinya.
Individualisme dan egoisme dirayakan secara berderap-derap.
Keinginan kaya dan terkenal (tanpa peduli dengan caranya meraih
kekayaan) telah menjadi impian kolektif. Ini menandai tragedi besar
sebuah bangsa yang akhirnya berujung pada semangat colong-njupuk
(korupsi) demi hedonisme.
Bangsa ini berharap, dengan kabinetnya yang berspirit kerja, rezim
baru Jokowi-JK mampu mengembalikan kesadaran etik dan etos bangsa yang
berbasis pada solidaritas sehingga terwujud mimpi besar hamemayu
hayuning buwana lan menungsa yang turunannya adalah keadilan sosial dan
kesejahteraan rakyat.
Konsep etik
Untuk itu, konsep dan tindakan etik hamemayu hayuning buwana lan
menungsa dapat diperluas menjadi hamemayu hayuning budaya, bangsa lan
negara.
Ini penting karena selama ini yang lebih diutamakan adalah hamemayu
mundaking honorarium alias memuja naiknya penghasilan atau upah sehingga
berlaku
rame ing honorarium sepi ing gawe (maju dalam hal imbalan, sepi dalam kerja/pengabdian). Terminologi wani pira sejatinya berakar dari runtuhnya konsep hamemayu hayuning buwana, menungsa, budaya, negara, lan bangsa.
rame ing honorarium sepi ing gawe (maju dalam hal imbalan, sepi dalam kerja/pengabdian). Terminologi wani pira sejatinya berakar dari runtuhnya konsep hamemayu hayuning buwana, menungsa, budaya, negara, lan bangsa.
Beranikah Kabinet Kerja Jokowi-JK menghirup kopi pahit, bersusah
payah demi mewujudkan konsep hamemayu hayuning buwana, menungsa, budaya,
negara, lan bangsa?
Beranikah Kabinet Jokowi mengakhiri ”pengkhianatan kaum intelektual”
yang selama ini terus berulang dan hanya menghasilkan intelektual dan
politisi salon yang culas dan hedonistik?
Memimpin negara-bangsa membutuhkan kemampuan berlapis-lapis, baik
dalam skala budaya ide (melahirkan gagasan visioner, ber- nilai), budaya
perilaku/ekspresi (budaya bertindak, baik secara etik maupun
pragmatik), maupun budaya karya (hasil bernilai yang memberi makna atas
kehidupan kolektif).
Tak kalah penting adalah ketangguhan sebagai kesatria konstitusi yang
pro rakyat, pro keadilan, dan pro kesejahteraan serta steril dari
korupsi.
Indra Tranggono
Pemerhati Kebudayaan dan Sastrawan
Pemerhati Kebudayaan dan Sastrawan
Sumber : Serambi Indonesia
http://aceh.tribunnews.com/2015/01/27/kopi-pahit-untuk-presiden