Jumat, 30 Januari 2015

Regenerasi Penyuluh Pertanian Mutlak

Regenerasi Penyuluh Pertanian Mutlak
RIZKY NOOR ALAM



Tenaga penyuluh dadakan harus melalui pelatihan yang cukup sehingga mampu menggerakkan dan membimbing petani.
SELAMA sepuluh tahun ter akhir tidak ada regenerasi tenaga penyuluh pertanian sehingga jumlahnya terus menyusut. Kondisi itu sangat berpotensi mengganjal upaya mencapai swasembada beras. Menurut Ketua Kelompok Tani Oryza Sativa Cianjur Ibrahim Naswari Gandana, karena kurangnya tenaga penyuluh pertanian, satu penyuluh terpaksa membimbing 2-3 desa. “Anggota TPL (tim penyuluh lapangan) ada yang meninggal dan pensiun dan tidak ada penggantinya. Intinya sangat kekurangan sekali,“ jelas Ibrahim saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.
Tenaga penyuluh tidak bisa diadakan hanya sesekali, tetapi harus terus tersedia secara berkelanjutan. Hal itu, kata Ibrahim, disebabkan peran penyuluh pertanian dibutuhkan petani sampai kapan pun.
Penyuluh, selain sebagai orang yang menyosialisasikan teknologi pertanian terbaru kepada petani, menjadi pemberi informasi kepada petani soal program-program pertanian pemerintah.“Seperti sekarang targetnya kan swasembada pangan dalam tiga tahun,“ imbuh Ibrahim.
Kalaupun ada tenaga-tenaga seperti mahasiswa atau tentara yang dikerahkan untuk membantu menyuluh, Ibrahim mengingatkan mereka terlebih dahulu diberi pelatihan yang cukup.
Per September 2014 jumlah penyuluh pertanian di Indonesia hanya 47.955 orang. Jumlah itu belum sebanding dengan jumlah desa/kelurahan yang ada di Indonesia, yakni berjumlah 75.224.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebutkan untuk mencapai swasembada beras, jagung, dan kedelai dalam tiga tahun ke depan, pemerintah akan melibatkan 5.000 mahasiswa, dosen, kepala desa, Bintara Pembina Desa (Babinsa), dan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA). Mereka diterjunkan sebagai penggerak dan pembimbing para petani.
Dalam rangkaian kunjungannya ke Jawa Timur dan Jawa Tengah, awal pekan ini, Amran menandatangani nota kesepahaman dengan Universitas Gadjah Mada (UGM). UGM diminta mengembangkan teknologi pertanian di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sekaligus memberi bimbingan ke petani.
Kerja sama serupa juga dilakukan dengan Universitas Hasanuddin dan Institut Pertanian Bogor.Amran menjelaskan bentuk kerja sama itu ialah riset, kemudian hasilnya diterapkan ke lapangan.
“Untuk UGM, mereka punya varietas kedelai yang produksinya bisa mencapai 3,5 ton per ha, IPB punya potensi produksi padi 12,5 ton per ha, dan Unhas punya varietas jagung yang bagus. Jadi, harus ada sinergi antara pemerintah, pengusaha, dan akademisi,“ papar Amran di Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa (27/1).
Dekan Fakultas Pertanian UGM Jamhari menjelaskan lahan pertanian pangan yang dikerjasamakan dengan UGM di Jawa Tengah dan DIY sekitar 110 ribu ha. “Nanti kami akan mengawal program swasembada padi, jagung, dan kedelai. Kami terjunkan mahasiswa juga, satu mahasiswa itu membantu 200 ha,“ papar Jamhari.Siap dampingi petani Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat (Kadispenad) Kolonel Inf Wuryanto menerangkan sebanyak 50 ribu anggota Babinsa diturunkan untuk mendampingi petani dan memberi penyuluhan.
“Babinsa ini juga nantinya akan dibekali kemampuan pertanian karena mereka juga tidak ada kemampuan itu,“ ujarnya saat berkunjung ke Kantor Media Group, kemarin.
Wuryanto menegaskan kerja sama itu bertujuan mendorong kemajuan pertanian dan bukan bertujuan lain. (SU/E-1)


 
Sumber : Media Indonesia