Siapa yang tidak mengenal Umar bin Abdul Aziz. Pada suatu malam, ada seorang kurir yang sampai di depan rumahnya. Dia mengetuk pintu saat Umar baru saja hendak tidur. Umar pun membukakan pintunya. Umar lalu mengajak kurir tersebut pada sebuah ruangan dimana beliau biasa bekerja. Tak lama, Umar mengambil sebuah lilin besar dan menyalakannya.
Sebelum kurir itu menyelesaikan pertanyaannya, Umar memberi isyarat
untuk berhenti. Beliau langsung mematikan lilin besar di hadapannya
dengan sekali tiup. Tak lama ia mengambil lilin yang lebih kecil dan
hampir habis. Dinyalakannya lilin tersebut dengan penerangan yang agak
redup. Umar pun berkata, “Sekarang, tanyakanlah apa yang ingin kamu
tanyakan.”
Sang kurir heran, tetapi ia tetap mengulangi pertanyaanya, “Wahai
Amirul Mukminin, bagaimana dengan kesehatanmu? Bagaimana kesehatan
keluargamu?” Umar tersenyum dan menjawab bahwa kesehatan dirinya maupun
keluarganya baik-baik saja. Beliau pun bertanya bagaimana kondisi
kesehatanya dan keluarganya. Sang kurir menjawab dan lalu bertanya lagi,
“Maaf, Amirul Mukminin, mengapa engkau mematikan lilin besar dan
menyalakan lilin yang lebih kecil lagi tidak terang?”
Umar berkata, “Lilin besar yang saya matikan itu adalah harta milik
Allah dan kaum Muslimin. Sedangkan lilin kecil itu milikku. Tentu engkau
paham apa maksudnya. Lilin besar itu digunakan untuk kemaslahatan dan
kepentingan mereka. Sedangkan lilin kecil itu dinyalakan untuk
kepentinganku sendiri.”
Sumber : Mencari Keadilan
http://mencari-keadilan.com/pemimpin-yang-adil-2/