Sabtu, 24 Januari 2015

Pemimpin yang Adil



Siapa yang tidak mengenal Umar bin Abdul Aziz. Pada suatu malam, ada seorang kurir yang sampai di depan rumahnya. Dia mengetuk pintu saat Umar baru saja hendak tidur. Umar pun membukakan pintunya. Umar lalu mengajak kurir tersebut pada sebuah ruangan dimana beliau biasa bekerja. Tak lama, Umar mengambil sebuah lilin besar dan menyalakannya.
Berkatalah Umar pada kurir tersebut, “Bagaimana kondisi penduduk di sana? Bagaimana kondisi kaum muslimin yang ada di sana dan bagaimana pula kondisi kaum non-muslim yang tinggal di sana? Bagaimana para pegawai yang ada di sana? Bagaimana harga barang-barang yang ada di pasar? Bagaimana kondisi anak-anak di sana, baik yang keturunan kaum Muhajirin maupun kaum Anshar? Bagaimana keadaan para ibnu sabil dan orang-orang miskin di sana? Apakah semua telah mendapatkan haknya?”Sang kurir tersenyum. Dia sudah tahu akan sifat pimpinannya itu. Dia pun segera menjawab semua pertanyaan Umar dengan baik dan detail. Semua diceritakannya sampai tidak ada satupun yang tersisa atau disembunyikan dan tidak ada yang ditambah-tambahi. Semua dijelaskan apa adanya. Umar bin Abdul Aziz mengangguk. Beliau puas dengan semua jawaban kurirnya tersebut. Tiba-tiba, sang kurir bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, bagaimana dengan kesehatanmu? Bagaimana kesehatan….”
Sebelum kurir itu menyelesaikan pertanyaannya, Umar memberi isyarat untuk berhenti. Beliau langsung mematikan lilin besar di hadapannya dengan sekali tiup. Tak lama ia mengambil lilin yang lebih kecil dan hampir habis. Dinyalakannya lilin tersebut dengan penerangan yang agak redup. Umar pun berkata, “Sekarang, tanyakanlah apa yang ingin kamu tanyakan.”
Sang kurir heran, tetapi ia tetap mengulangi pertanyaanya, “Wahai Amirul Mukminin, bagaimana dengan kesehatanmu? Bagaimana kesehatan keluargamu?” Umar tersenyum dan menjawab bahwa kesehatan dirinya maupun keluarganya baik-baik saja. Beliau pun bertanya bagaimana kondisi kesehatanya dan keluarganya. Sang kurir menjawab dan lalu bertanya lagi, “Maaf, Amirul Mukminin, mengapa engkau mematikan lilin besar dan menyalakan lilin yang lebih kecil lagi tidak terang?”
Umar berkata, “Lilin besar yang saya matikan itu adalah harta milik Allah dan kaum Muslimin. Sedangkan lilin kecil itu milikku. Tentu engkau paham apa maksudnya. Lilin besar itu digunakan untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka. Sedangkan lilin kecil itu dinyalakan untuk kepentinganku sendiri.”
Sumber : Mencari Keadilan
http://mencari-keadilan.com/pemimpin-yang-adil-2/