Foto Ilustrasi
Kepastian Hukum yang Memacu Pertumbuhan
PEMERINTAH dan DPR menetapkan target pertumbuhan
ekonomi tahun ini sebesar 5,7%. Meskipun lebih kecil
daripada usul pemerintah yang mencapai 5,8%, angka itu masih tergolong
tinggi.Itu juga lebih laju ketimbang realisasi pertumbuhan ekonomi 2014
yang hanya 5,1%. Pertumbuhan 5,7% ialah sasaran yang memerlukan kerja
ekstra keras untuk diwujudkan di tengah situasi perekonomian global
tidak kunjung menentu.Di saat laju pertumbuhan perekonomian banyak
negara berkembang diprediksi melambat, Indonesia justru yakin mampu
melaju lebih cepat. Tentu saja, tidak salah menetapkan target tinggi.
Bahkan, ia bisa menjadi motivasi untuk berupaya sekuat tenaga meraihnya.
Lain ceritanya bila target tersebut sekadar angka untuk dituliskan
dalam kolom asumsi pertumbuhan pada anggaran pendapatan dan belanja
negara.Itu angka yang hanya bersifat formalitas. Tercapai syukur, tetapi
jika tidak tercapai, salahkan keadaan. Menteri Keuangan Bambang
Brodjonegoro mengakui Indonesia tidak banyak berharap pada kinerja
ekspor untuk menunjang pertumbuhan. Apalagi harga minyak anjlok dan
diperkirakan bertahan selama paling tidak satu semester. Itu berarti
penerimaan sektor minyak dan gas akan tergerus cukup signifikan.
Setelah hilang harapan di pos ekspor, pemerintah fokus pada investasi
dan konsumsi masyarakat. Keduanya diandalkan sebagai motor penggerak
untuk meraih target pertumbuhan 5,7% tahun ini dan 7% dalam tiga ta
hun mendatang. Menguatkan investasi dan konsumsi bukan hal
mudah.Investasi membutuhkan iklim usaha yang kondusif. Salah satu
komponen utamanya ialah kepastian hukum.Perseteruan antarinstansi
penegak hukum bukan sinyal yang baik untuk menarik investor karena
menyiratkan riak di bidang hukum. Riak itu bisa berubah menjadi
gelombang ketidakpastian. Alih-alih menanamkan modal, investor malah
akan mencabut yang sudah mereka investasikan karena diliputi rasa waswas
tergulung oleh gelombang.
Berbagai hal yang menimbulkan
ketidakpastian, terutama di bidang hukum, harus segera disudahi. Jangan
sampai ketidakpastian dibiarkan berlarut-larut, menghabiskan waktu dan
tenaga dengan percuma. Semua pihak perlu menyadari kita berada di biduk
yang sama. Bila tidak kompak mendayung ke satu arah, biduk akan
melenceng, bahkan mandek. Tujuan pun mustahil tercapai. Tidak mungkin
kita bisa meraih target pertumbuhan tinggi tanpa menjaga minat dan
semangat investor.
Menjaga dan menguatkan konsumsi masyarakat
juga tidak bisa dianggap enteng. Terbukti, hingga kini pemerintah masih
kesulitan menyeret hargaharga kebutuhan pokok kembali turun
pascapenurunan harga bahan bakar minyak. Setelah target pertumbuhan
ekonomi tercapai, jangan pula berpuas diri. Realisasi itu akan menjadi
sekadar angka jika rakyat tidak merasakan peningkatan kesejahteraan.
Sumber : Media Indonesia
